Warung Bebas

Jumat, 18 Februari 2011

Begitu Menikah, Jangan Tunda Kehamilan

Sering  kali kita mendengar, pasangan muda sulit memperoleh anak begitu mereka menginginkannya setelah beberapa lama ber-KB. Diduga kuat, penundaan kehamilan dengan kontrasepsi selain kondom setelah menikah menjadi salah satu penyebab.
Pasangan muda Bagus dan Febi, sebutlah begitu, sejak sebelum melangsungkan pernikahan sudah merencanakan untuk tidak segera mempunyai momongan. Alasannya, mereka belum mempunyai rumah sendiri dan Bagus baru saja mendapat pekerjaan. Saat menikah, usia mereka memang masih muda, Febi 22 tahun dan Bagus 25 tahun. untuk itu, mereka memilih kontrasepsi pil antihamil.
Merasa berpenghasilan cukup dan mampu mengontrak rumah setelah dua tahun menikah, mulailah mereka berpikir untuk meramaikan rumahnya dengan kehadiran seorang anak. Pil KB pun segera distop konsumsinya, tapi sampai perkawinan berusia tiga tahun, yang mereka tunggu-tunggu belum juga hadir. Merasa cemas, mereka segera memeriksakan diri ke dokter ahli kebidanan dan kandungan. Setelah menjalani terapi medis selama sekitar dua tahun, akhirnya Febi berhasil hamil.
Antibodi antisperma
Pada zaman sulit mencari nafkah seperti saat ini, banyak pasangan muda menunda mempunyai anak, seperti yang dijalani Bagus dan Febi. Alasannya macam-macam, antara lain pekerjaan belum mapan, belum punya tempat tinggal tetap, gaji masih kecil, dll. Lalu mereka memutuskan untuk sementara melakukan KB dengan kontrasepsi pil atau suntik antihamil, IUD, kondom, dsb.
Menurut Prof. dr. H. Aryatmo Tjokronegoro Ph.D., Sp.And. spesialis alat reproduksi pria (androlog) dari FKUI, setiap pasangan suami-istri memang berhak menunda kehamilan. Namun, upaya itu dilakukan dengan memilih kontrasepsi yang tepat berdasarkan anjuran dokter. Ini untuk menghindari sulitnya menghadirkan si buah hati pada saat diinginkan. Pasalnya, sering terjadi pasangan muda sulit hamil setelah kontrasepsi dihentikan penggunaannya. Itu sebuah misteri.
Untuk memecahkan “misteri” macam itu pada tahun 1970-an sejumlah spesialis infertilitas Barat melakukan penelitian pada kasus unexplained infertillity (infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya) secara klinis maupun laboratoris. Pada banyak pasangan ternyata tidak ditemukan kelainan organis (seperti saluran indung telur buntu) maupun kelainan fisiologis sebagai penyebabnya.
Kemudian diteliti kemungkinan penyebab lain. Salah satunya adalah kemungkinan adanya faktor antibodi antisperma pada wanita, sehingga terjadi kegagalan potensi sperma membuahi ovum (sel telur) dalam tubuh wanita. Diteliti pula apakah penggunaan alat kontrasepsi seperti pil KB atau suntik KB (berisi hormon yang menolak pembuahan) serta IUD dalam jangka waktu tertentu menjadi penyebab meningkatnya antibodi antisperma.
Terapi kondom
Sejak lahir setiap manusia normal dibekali suatu sistem imunologi yang dapat melindungi diri terhadap serangan berbagai kuman penyakit. Setiap saat sistem imun ini siap menjaga tubuh dari serangan antigen asing. Dalam sistem reproduksi pun sistem imun itu ada. Pada setiap wanita sistem imun berperan penting dalam menjaga keselamatan sang jabang bayi. Dengan kekebalan, proses perkembangan janin berlangsung baik paling tidak sampai usia kehamilan sembilan bulan, saat bayi siap dilahirkan. Selain itu, sistem imun juga menjaga tubuh terhadap serangan berbagai macam infeksi, termasuk pelbagai penyakit seksual.
Pada diri setiap pria pun bisa timbul antisperma yang merupakan femomena autoimun atau akibat sistem imun membentuk antibodi terhadap antigen tubuhnya sendiri, yakni sperma. Sebaliknya, wanita tidak mempunyai unsur antigen yang terkandung seperti pada sperma maupun komponen plasma semen. Namun, begitu si wanita mulai berhubungan seksual dengan pria, di dalam tubuhnya akan terbentuk antibodi antisperma terhadap antigen sperma. Pada tingkat tertentu, antibodi masih bisa ditembus oleh sperma yang bagus kualitasnya (cepat dan kuat) untuk membuahi sel telur hingga menghasilkan kehamilan.
Walaupun hanya satu sperma yang bakal membuahi sel telur, menurut teori kedokteran, dibutuhkan puluhan juta (minimal 20 juta) sperma agar kemungkinan terjadinya pembuahan lebih besar. Pasalnya, perjuangan untuk bisa mencapai sel telur luar biasa beratnya bagi kebanyakan sel sperma. Selama dalam perjalanan panjang dari lubang vagina sampai ke indung telur, banyak sperma yang berguguran.
Namun, belakangan para androlog tidak lagi berpatokan pada teori ini. “Yang terpenting bukan jumlahnya tetapi kualitas spermanya,” kata dr. Aryatmo. “Menurut saya, walaupun sperma yang dimiliki sang suami hanya 5 – 6 juta, tapi kalau gerakannya cukup gesit, bisa saja membuahi sel telur.” Yang menjadi masalah, kalau jumlah sperma sedikit dan gerakannya lamban. Maka mereka akan gugur sebelum mencapai tujuan!
Pada pasangan yang menggunakan kontrasepsi seperti pil dan suntik KB, walaupun terjadi kontak antara sperma dan sel telur pada tubuh wanita, pembuahan tidak bakal terjadi. Sedangkan pada KB IUD (spiral) pembuahan bisa terjadi, tapi biasanya langsung gugur.
Menurut para pakar dalam penelitian tadi, selama penggunaan alat kontrasepsi, pembentukan antibodi terhadap sperma akan terus terbentuk. Bahkan semakin lama kadarnya semakin tinggi dan pertahanannya semakin kuat. Diduga inilah biang keladi si wanita sulit hamil. Jadi, dengan kata lain dalam tubuh si wanita telanjur timbul “kontrasepsi alami” atau tercipta antibodi kuat yang menolak kehadiran sperma yang hendak
membuahi sel telurnya.
Kalau pun sampai terjadi pembuahan, menurut para pakar itu, bisa jadi telah terbentuk efektor imun lebih dahsyat. Yang dimaksud efektor imun adalah sistem imun seluler (yang dibawa oleh leukosit, makrofag, dll.) yang mampu menimbulkan efek peradangan terhadap janin dan plasenta yang telah mulai berkembang dalam rahim sang ibu. Penolakan imun ini bisa menyebabkan keguguran.
Dalam kasus di atas, agar istri bisa hamil, suami dianjurkan melaksanakan terapi kondom. Setelah kontrasepsi dihentikan, selama 6 – 8 bulan berikutnya pasangan mesti mengenakan kondom ketika melakukan hubungan intim. Diharapkan selama itu antibodi akan menurun dan tidak ada lagi di daerah organ reproduksi sang istri. Sehingga ketika sudah tidak lagi memakai kondom, sperma akan bermigrasi sampai ke saluran indung telur untuk bertemu dengan ovum tanpa halangan apa pun. Tentu saja, itu akan terjadi saat sang istri berada pada masa subur.
Kondom kontrasepsi terbaik
Menunda kehamilan, menurut dr. Aryatmo, juga banyak dilakukan pada pasangan pranikah zaman sekarang yang sudah melakukan hubungan seksual. Kalau memang teori pada penelitian tadi benar, hubungan semacam itu hanya akan membangkitkan respons imun dalam tubuh si gadis terhadap komponen antigen laki-laki. “Akhirnya, yang rugi lagi-lagi pihak wanita karena nantinya akan sulit hamil,” tegasnya. “Sebab itu saya sarankan agar para gadis menjaga untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum masuk jenjang perkawinan.”
Penelitian juga membuktikan, pada para perempuan tuna susila banyak dijumpai efektor respons imun, baik imun seluler maupun imun humoral (yang dibawa oleh antibodi). Apalagi dalam semalam bisa berganti-ganti pasangan. Dalam hal ini adanya komponen efektor imun justru menguntungkan para wanita pekerja seks itu karena akan sulit mengalami kehamilan atau, kalaupun terjadi pembuahan, mudah terjadi keguguran.
Namun sekali lagi, hasil penelitian soal antibodi antisperma sebagai biang keladi tadi masih diliputi pro dan kontra. Kalaupun karena masalah antibodi yang meningkat, belum tentu gara-gara kontrasepsi itu saja, tapi mungkin bisa juga karena dalam tubuh si wanita secara alami terbentuk antibodi antisperma yang kuat. Dalam hal ini kepada wanita yang bersangkutan biasanya cukup diberikan obat imunosupresi yang akan menekan pembentukan antibodi terhadap sperma. Tidak perlu dengan terapi kondom. Tapi penggunaan obat imunosupresi ini pun banyak pihak yang menentang, sebab efek sampingannya, tubuh si wanita akan kekurangan antibodi sehingga akan lebih mudah kemasukan kuman atau virus seperti rubella, campak, dll. yang nantinya akan membahayakan janin.
Sebab itu, dr. Aryatmo menganjurkan, kalau pun pasangan muda ingin menunda kehamilan, sebaiknya menggunakan alat kontrasepsi kondom. “Sarung pelindung” ini dipandang sebagai kontrasepsi terbaik dan teraman dari sudut imunologis. Ia akan mencegah terjadinya pembuahan sekaligus mencegah kontak antara antigen suami dengan sistem imun istri, sehingga antibodi pada tubuh istri tidak meningkat.
Namun yang paling aman, menurut dr. Aryatmo, pasangan suami istri tidak menunda masa kehamilan. “Sebaiknya, satu anak dulu, baru KB,” sarannya.Dr. Aryatmo juga menyarankan kepada setiap pasangan suami istri tidak subur untuk memeriksakan diri secara cermat guna mencari penyebab utamanya. Apakah benar akibat ulah antibodi terhadap antigen komponen suaminya atau ada masalah lain. Kasus infertilitas atau ketidaksuburan memang melibatkan banyak faktor.


Sumber: Intisari

Senin, 24 Januari 2011

Kuret Tak Hanya Soal Keguguran

KURET identik dengan keguguran. Tapi ternyata, kuret bisa dilakukan untuk non keguguran juga loh! Mau tahu hal apa saja yang harus dikuret dan bagaimana tata laksananya?

Dikuret Jika...

Kuret atau kuretase merupakan tindakan medis untuk mengeluarkan jaringan atau sisa jaringan dari dalam rahim dengan fungsi diagnostik atau terapetik. Jaringan bisa berupa janin yang mengalami abortus, endometriosis, atau sisa plasenta yang tertinggal seusai persalinan. Kuret perlu dilakukan supaya rahim bersih dari jaringan yang tidak semestinya berada bahkan tumbuh di dalamnya. Jika tidak dibersihkan, akan memunculkan gangguan seperti nyeri dan perdarahan.

Kuret sebagai diagnostik suatu penyakit rahim. Ini bertujuan untuk mengambil sedikit jaringan lapis lendir rahim, sehingga dapat diketahui penyebab dari perdarahan abnormal yang terjadi. Misalnya:
- Pendarahan pervaginam yang tidak teratur
- Pendarahan hebat
- Kecurigaan akan kanker endometriosis atau kanker rahim
- Infeksi rahim
- Pemeriksaan kesuburan/ infertilitas

Kuret sebagai terapi, bertujuan menghentikan perdarahan yang terjadi pada keguguran kehamilan dengan cara mengeluarkan hasil kehamilan yang telah gagal berkembang; menghentikan perdarahan akibat mioma dan polip dengan cara mengambil mioma dan polip dari dalam rongga rahim; menghentikan perdarahan akibat gangguan hormon dengan cara mengeluarkan lapisan dalam rahim. Misalnya:
- Kasus keguguran
- Tertinggalnya sisa jaringan plasenta (ari-ari), atau sisa jaringan janin di dalam rahim setelah proses persalinan
- Hamil anggur
- Menghilangkan polip rahim

Prosedur Kuret
Prosedurnya sama antara kuret karena keguguran maupun non keguguran.

1. Persiapan sebelum kuret
Puasa. Saat akan menjalani kuret, biasanya Moms harus mempersiapkan diri. Misal, berpuasa 8 jam sebelumnya agar perut dalam keadaan kosong sehingga kuret bisa dilakukan dengan maksimal.

Cek adanya perdarahan. Dokter akan melakukan cek darah untuk mengetahui apakah pasien mengalami gangguan perdarahan atau tidak. Jika ada indikasi gangguan perdarahan, kuret akan ditunda sampai masalah perdarahan teratasi. Namun tak menutup kemungkinan kuret segera dilakukan untuk kebaikan pasien.

Persiapan psikologis. Seperti halnya persalinan normal, sakit tidaknya kuret sangat individual. Sehingga, kesiapan Moms sangat berperan dalam menentukan hal ini. Bila Moms sudah ketakutan bahkan syok lebih dulu sebelum kuret, munculnya rasa sakit sangat mungkin terjadi. Sebab rasa takut akan menambah kuat rasa sakit. Usahakan menenangkan diri untuk mengatasi rasa takut, pahami bahwa kuret adalah jalan yang terbaik untuk mengatasi masalah yang ada.

Minta penjelasan dokter selengkap-lengkapnya, mulai apa itu kuret, alasan kenapa harus dikuret, persiapan yang harus dilakukan, hingga masalah atau risiko yang mungkin timbul.

2. Saat Kuret
Sebelum dilakukan kuret, biasanya pasien akan diberikan obat anestesi (bius). Ketika melakukan kuret, ada 2 pilihan alat bantu. Pertama, sendok kuret dan kanula/selang. Sendok kuret biasanya dipilih oleh dokter untuk mengeluarkan janin yang usianya lebih dari 8 minggu karena pembersihannya bisa lebih maksimal. Sedangkan sendok kanula lebih dipilih untuk mengeluarkan janin yang berusia di bawah 8 minggu, sisa plasenta, atau kasus endometrium.

3. Perawatan pascakuret
Perawatan usai kuretase umumnya sama dengan operasi-operasi lain. Moms harus menjaga bekas operasi dengan baik, tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat, tidak melakukan hubungan intim untuk jangka waktu tertentu sampai keluhannya benar-benar hilang, dan meminum obat secara teratur.

Jika ternyata muncul keluhan, sakit yang terus berkepanjangan atau muncul perdarahan, segera periksakan diri ke dokter. Mungkin perlu dilakukan tindakan kuret yang kedua karena bisa saja ada sisa jaringan yang tertinggal. Jika keluhan tak muncul, biasanya kuret berjalan dengan baik dan pasien tinggal menunggu kesembuhan.

Dampak Kuret
- Perdarahan.
Ini dikhawatirkan terjadi jika jaringan tidak diambil dengan bersih. Untuk itu jaringan harus diambil dengan bersih dan tidak boleh tersisa sedikit pun. Bila ada sisa kemudian terjadi perdarahan, maka kuret kedua harus segera dilakukan. Biasanya hal ini terjadi pada kasus jaringan yang sudah membatu.

- Cerukan di dinding rahim. Pengerokan jaringan pun harus tepat sasaran, jangan sampai meninggalkan cerukan di dinding rahim. Karena dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan rahim.

- Infeksi. Jika jaringan tersisa di dalam rahim, muncul luka, cerukan, dikhawatirkan bisa memicu terjadinya infeksi. Sebab, kuman senang sekali dengan daerah-daerah yang basah oleh cairan seperti darah.

- Perlekatan bagian dalam rahim.
- Masih terdapat jaringan tersisa.


Masih Bisa Hamil Kembali
Bila ada yang bilang usai kuret tak bisa hamil lagi itu keliru. Penyebab sulit hamil, mungkin ada masalah dengan organ reproduksi atau masalah kesuburan. Setelah menjalani kuret, Moms tetap bisa hamil dan memiliki anak lagi. Asal kondisi organ reproduksinya baik, ditambah dengan masa subur yang tidak bermasalah.

Namun, seusai kuret Moms dianjurkan untuk mengistirahatkan rahim sampai benar-benar sehat dan siap hamil. Khususnya bila kuret dilakukan pada saat kondisi hamil tua karena kondisi uterus sudah membesar sehingga perlu istirahat. Namun bila kuret dilakukan pada saat kehamilan masih muda (batasannya hingga 20 minggu) kehamilan bisa dilakukan lebih cepat jika Moms sudah merasa siap.
(Mom& Kiddie//ftr) 



sumber : http://lifestyle.okezone.com/read/2010/12/10/195/402207/kuret-tak-hanya-soal-keguguran

Rabu, 19 Januari 2011

Mengobati Endometriosis Tanpa Obat

Adanya efek samping tertentu merupakan salah satu alasan orang malas mengonsumsi obat, termasuk untuk mengatasi endometriosis (pertumbuhan rahim tidak sempurna). Kini endometriosis bisa diatasi tanpa obat, hanya dengan meningkatkan kemampuan sistem kekebalan tubuh.

Endometriosis adalah jaringan rahim yang tumbuh diluar rahim tapi berada di endometrium (dinding rahim). Kondisi ini menyebabkan nyeri haid dan kesulitan untuk hamil, sedangkan pada keparahan tertentu bisa menyebar ke jaringan otak dan paru-paru.

Selain genetik, faktor lain yang meningkatkan risiko endometriosis adalah sistem imun atau kekebalan tubuh. Penelitian yang dilakukan Dr H Muharam, SpOG(K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menunjukkan, wanita yang mengalami endometriosis punya sistem imun yang kurang tangguh.

Komponen sistem imun yang berhubungan dengan endometriosis adalah sel Natural Killer (NK) yang merupakan pembunuh alami bagi sel-sel asing di dalam tubuh. Kemampuan sel ini menurun pada penderita endometriosis sehingga tidak bisa mengendalikan pertumbuhan endometrium yang tidak normal.

"NK ini seharusnya membunuh endometrium yang tumbuh di luar rahim, tapi karena lemah maka dibiarkan saja. Biar kuat, NK harus 'disekolahkan' agar menjadi Lymphokine Activated Killer atau LAK," ungkap Dr Muharam usai menjalani sidang promosi doktoral atas penelitiannya ini di Ruang Senat FKUI, Salemba, Jakarta, Kamis (20/1/2011).

Metode baru yang dikembangkan oleh Dr Muharam untuk mengatasi endometriosis adalah memperkuat NK menjadi LAK. Caranya dengan mengeluarkannya dari peredaran darah, kemudian 'menyekolahkannya' atau mereaksikannya dengan komponen sistem imun lainnya yakni interleukine-2 (IL-2).

Setelah menjadi LAK, komponen sistem imun tersebut dimasukkan kembali ke dalam tubuh pasien. LAK inilah yang kemudian akan melawan endometriosis secara alami, tanpa menggunakan obat atau operasi-operasi radikal yang sering berakhir dengan pengangkatan rahim.

Dalam jangka pendek, hasil penelitian ini memang belum bisa diterapkan karena baru diteliti secara in-vitro di laboratorium. Namun Dr Muharam yakin ke depannya metode yang ia kembangkan bisa bermanfaat bagi penderita endometriosis yang populasinya mencapai 10-15 persen wanita usia subur.

Selain didukung oleh FKUI, dalam penelitian ini Dr Muharam juga mendapat dukungan dari sebuah lembaga riset di Paris, INSERM. Lembaga ini juga menawarkan penelitian post-doctoral bagi Dr Muharam, yang salah satu tujuannya untuk menciptakan sebuah vaksin endometriosis.


sumber : http://health.detik.com/read/2011/01/20/143259/1550637/775/mengobati-endometriosis-tanpa-obat?l991101755

Keguguran Berulang dan Sindrom Antifosfolipid

KEGUGURAN merupakan kegagalan kelangsungan proses kehamilan secara spontan pada usia lebih dini atau sama dengan 20 minggu. Dari seluruh kehamilan, kejadian keguguran sebanyak satu kali dapat dialami oleh sekitar 15-20 persen perempuan. Umumnya keguguran terjadi pada usia kehamilan di bawah 13 minggu.
Keguguran akan menjadi masalah yang serius jika terjadi berulang. Kriteria keguguran berulang adalah jika terjadi keguguran berulang sebanyak lebih dari 3 kali berturut-turut. Dari seluruh kehamilan yang ada maka angka kejadian keguguran berulang adalah sekitar 0,5-1 persen.
Banyak hal yang dapat menjadi penyebab terjadinya keguguran yang berulang tersebut. Faktor kerja berat, olahraga, atau hubungan sanggama, ternyata tidak menjadi penyebab terjadinya keguguran kehamilan.
Faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab keguguran berulang antara lain :
1. Kelainan kromosom atau genetik (15 persen),
2. Infeksi pada rahim seperti bakterial vaginosis, klamidia atau infeksi TORSH (toksoplasma, rubela, sitomegalovirus atau herpes) (1-4 persen),
3. Kekurangan hormon progesteron, penyakit diabetes melitus dan penyakit kelenjar gondok (15 persen),
4. Kelainan pada organ rahim seperti sekat pada rahim, miom atau polip (11 persen),
5. Penyakit imunologi seperti sindrom antifosfofolipid
(5 persen),
6. Masih belum diketahui
(50 persen).
Upaya diagnostik
Untuk mengetahui penyebabnya secara lebih pasti maka dokter haruslah melakukan beberapa pemeriksaan terkait secara lengkap. Pemeriksaan darah pasangan suami istri dilakukan untuk mengetahui adanya kelainan kromosom, kadar hormon progesteron serum, kadar antibodi terhadap TORSH, kadar gula darah, dan kadar hormon tiroid. Pada kasus infeksi TORSH ini haruslah dilakukan analisis yang lebih mendalam. Abortus hanya diakibatkan oleh infeksi yang baru terjadi dan bukanlah oleh infeksi yang telah lampau, sehingga pengobatan yang tidak perlu dapat dihindari.
Untuk mengetahui adanya infeksi pada daerah mulut rahim dapat dilakukan pengambilan contoh lendir mulut rahim dan dilakukan pemeriksaan terhadap keberadaan mikroorganisme yang abnormal. Dengan alat bantu ultrasonografi (USG) dapat diketahui bentuk dan ukuran rahim, adanya miom di dinding rahim atau polip dalam rongga rahim. Jika terdapat kecurigaan adanya sekat pada rahim, dapat digunakan alat bantu lainnya yaitu alat teropong ke dalam rahim (histeroskopi).
Sindrom antifosfolipid
Sindrom antifosfolipid merupakan kumpulan gejala penyakit yang terkait dengan kerusakan beberapa organ akibat tidak terkendalinya antibodi terhadap unsur fosfolipid yang berada di dalam tubuh kita.
Fosfolipid adalah unsur yang sangat penting karena merupakan bagian utama dari dinding sel. Fosfatidil serin, fosfatidil inositol, asam fosfatidat, dan kardiolipin, merupakan fosfolipid yang bermuatan negatif, sedangkan fosfatidilkolin dan fosfatidil etanolamin bermuatan netral. Oleh karena kelainan tertentu maka tubuh akan membentuk zat antibodi yang kemudian akan menyerang atau merusak secara spesifik terhadap unsur fosfolipid ini, terutama fosfolipid yang bermuatan negatif. Dalam hal ini kerusakannya akan membawa dampak yang sangat buruk.
Beberapa kelainan yang dapat ditimbulkan akibat antibodi antifosfolipid yang tidak terkendali tersebut adalah trombosis arteri dan vena, trombositopenia, keguguran spontan yang berulang, kematian janin, pertumbuhan janin terhambat, preeklamsia, infertilitas, stroke, emboli paru, kelainan kulit, penyakit jantung infark, kelainan katup jantung, anemia hemolitik, dan masih banyak lagi. Sindrom antifosfolipid juga mempunyai hubungan yang erat dengan penyakit autoimun lainnya yaitu penyakit lupus.
Keguguran berulang
Walaupun sudah diketahui bahwa antibodi antifosfolipid dapat menyebabkan terjadinya keguguran yang berulang, namun kita harus menyadari bahwa masih banyak faktor lain yang dapat menjadi penyebab terjadinya keguguran berulang tersebut. Untuk menghindari pengobatan yang tidak tepat, haruslah terlebih dahulu dicari penyebab selain antibodi antifosfolipid, seperti kelainan organ rahim, kelainan kromosom, atau kelainan hormon. Jika tidak ditemukan, upaya diagnostik dapat ditujukan kepada kemungkinan sindrom antifosfolipid.
Sindrom antifosfolipid haruslah memenuhi kriteria yang diputuskan oleh para ahli pada simposium internasional ke-8 tentang antibodi antifosfolipid, 10 Oktober 1998 di Sapporo, Jepang, yaitu :
I. Kriteria klinik
1. Trombosis di pembuluh darah
Terdapat satu atau lebih episoda trombosis di arteri, vena atau pembuluh darah kecil, di jaringan atau organ. Diagnosis trombosis menggunakan pemeriksaan radiologi, pemeriksaan doppler atau histopatologi.
2. Morbiditas pada kehamilan
a. Satu kali atau lebih kematian janin pada usia kehamilan 10 minggu atau lebih, tanpa ditemukan adanya kelainan morfologi janin.
b. Satu kali atau lebih terjadi persalinan prematur janin normal pada usia 34 minggu atau kurang karena preeklamsia berat /eklamsia atau insufisiensi plasenta.
c. Tiga kali atau lebih terjadi keguguran spontan pada usia kurang dari 10 minggu, tanpa disertai kelainan anatomi organ ginekologi atau tanpa kelainan hormonal ibu atau tanpa kelainan kromosom kedua orang tua.
II. Kriteria laboratorik
1. Antibodi antikardiolipin (ACA) isotipe IgG dan atau IgM, dengan kadar positif sedang (IgM 6-50 MPL unit dan IgG 15-80 GPL unit) atau kadar positif tinggi (IgM >50 MPL unit dan IgG >80 GPL unit), pada 2 kali pemeriksaan dengan jarak minimal 6 minggu.
2. Antikoagulan lupus (LA) positif pada 2 kali pemeriksaan dengan jarak minimal 6 minggu.
Secara definitif, sindrom antifosfolipid dapat ditegakkan dengan ditemukannya minimal 1 kriteria klinik, dan 1 kriteria laboratorik.
Jika telah terbukti adanya kaitan yang erat antara antibodi antifosfolipid dan keguguran yang berulang, maka pengobatan saat ini yang dianjurkan selain mengobati penyebabnya adalah dengan pemberian asam asetosalisilat atau aspirin dosis rendah 81 mg. Pada kasus yang berat dapat dilakukan kombinasi dengan suntikan heparin. [KOMPAS]



sumber : http://bibilung.wordpress.com/2007/08/19/keguguran-berulang-dan-sindrom-antifosfolipid/

Perkembangan Janin 4 minggu - 20 minggu Melalui USG

Kehamilan 4 minggu 5 hari
 

Kehamilan 5 minggu
 

Kehamilan 5 minggu 2 hari
(Five week pregnancy ultrasound with sac and yolk sac Transvaginal ultrasound, normal pregnancy at 5 weeks 2 days Gestational sac (black area ) and yolk sac are seen Sac measures 6.25mm diameter Yolk sac (small white circle in left side of the sac) Yolk sac is a source of nutrients for the fetus The fetus is too small to be seen this early in pregnancy)
Normal pregnancy ultrasound at 5 weeks gestation


Kehamilan 5 minggu 6 hari
 

Kehamilan 6 minggu 1 hari
(Ultrasound picture at 6 weeks and 1 day of gestation Yolk sac is seen to the left of the fetal pole (fetus) Fetus has CRL, crown-rump length, of 4.3 mm (between cursors) A fetal heartbeat was seen during this scan)
Ultrasound in early pregnancy 6 weeks from last menstrual period

Kehamilan 6 minggu 6 hari

Kehamilan 7 minggu 1 hari


Kehamilan 7 minggu 4 hari
 Image

Kehamilan 7,5 minggu
http://www.ob-ultrasound.net/images/us10.jpg

Kehamilan 8 minggu
 http://www.ob-ultrasound.net/images/cs8w.jpg

Kehamilan 9 minggu
http://www.ob-ultrasound.net/images/stella.jpg

Kehamilan 10 minggu
http://www.ob-ultrasound.net/images/scan11.jpg

Kehamilan 10 minggu bayi kembar
http://www.ob-ultrasound.net/images/twins.jpg

Kehamilan 11 minggu
http://www.ob-ultrasound.net/images/scan10.jpg

Kehamilan 12 minggu
http://www.ob-ultrasound.net/images/us13.jpg

Kehamilan 13 minggu
http://www.aspenleaflogcabin.com/Ultrasound%201%20-%20Image%201.jpg

Kehamilan 14 minggu
http://www.ob-ultrasound.net/images/14weeks.jpg

Kehamilan 15 minggu
15 week

kehamilan 16 minggu 


Kehamilan 17 minggu
http://www.ob-ultrasound.net/images/us14.jpg

Kehamilan 18 minggu
http://www.ob-ultrasound.net/images/us6-2.jpg

Kehamilan 19 minggu
http://www.ob-ultrasound.net/images/us27.jpg

Kehamilan 20 minggu



sumber : http://www.ob-ultrasound.net/p_left.htm | http://www.advancedfertility.com

Senin, 17 Januari 2011

Polikistik Ovarium (PCOS) - II : Haid sering tidak datang, Berkumis, Berjerawat, Ingin hamil sulit

Akhir-akhir ini banyak saya temukan kejadian polikistik di tempat praktek. Biasanya mereka yang menderita polikistik datang dengan keluhan haid tidak datang tapi di tes urine hasilnya negatif. Keluhan yang lain biasanya ingin ikut baby program alias nggak hamil-hamil. Kenapa kok jadi banyak sekali ya kejadian polikistik alias PCO (Polycystic ovary)?? Saya sih menduga karena lifestyle kita yang makin lama-makin `jorok` dalam hal pola makan terutama seperti fast food dan junk food. So bagaimana sih sebenarnya keadaan polikistik ini??
Polikistik adalah kumpulan keadaan yang terdiri dari:
1) adanya gambaran sel telur yang kecil-kecil dan tidak membesar, biasanya terdiri hingga 8 atau lebih yang membentuk gambaran seperti roda pedati. Normalnya telur-telur ini akan membesar sesuai siklus dan akan pecah atau disebut dengan ‘ovulasi’. Wanita disebut lagi subur saat ovulasi terjadi
 2) haid yang cenderung sedikit bisa hanya bercak-bercak, juga cuman sebentar dan malah sering tidak datang.
3) adanya tanda hormon laki-laki yang tinggi alias hiperandrogen seperti berbulu, berkumis (miaw..eh bukan kucing lho), dan berjerawat.
4) biasanya juga terjadi gangguan gula darah yang agak sedikit meningkat tapi masih dibawah kelas diabetes mellitus (kencing manis). Gangguan ini dikategorikan sebagai gangguan toleransi glukosa (glucose intolerance)
Tidak perlu cemas dan takut, karena kondisi ini tidak termasuk kondisi yang berbahaya atau bisa merenggut jiwa. Nah kira-kira apa yang harus kita lakukan??? Biasanya saya menangani pasien sesuai kondisinya. Pada pasien yang masih gadis atau belum menikah, kadang tidak diobati sama sekali juga nggak apa apa. Yang terpenting adalah turunkan berat badan mendekati berat badan ideal dan olahraga teratur. Kalaupun tidak haid, dibiarkan saja juga tidak masalah. Nanti kalau diet dan olahraganya sudah berjalan, diharapkan haid akan teratur dengan sendirinya. Pengobatan yang kadang juga dilakukan adalah untuk menghilangkan seperti jerawat atau bulu ditangan, kaki atau kumis….Ini sih bisa dilakukan di klinik kecantikan, tinggal konsul saja.
Kalau pasien sudah menikah dan ingin memiliki momongan, lain cerita penanganannya. Penurunan berat badan dan olahraga tetap wajib dilakukan. Yang lain bisa ditambahkan obat metformin yang biasanya diberikan untuk yang memiliki kencing manis (diabetes mellitus). Lakukan konsultasi dengan dokter kandungan untuk memperbaiki kesuburan dan juga dilakukan pemantauan kematangan sel telur, adakah ovulasi atau tidak. Pengobatan sederhana seperti ini kadang hasilnya sangat memuaskan dan pasien bisa hamil. Lain cerita kalau respon tidak bagus, saya akan kerjakan operasi dengan laparoskopi untuk memperbaiki keadaannya. Banyak kok pasien dengan polikistik bisa hamil, saat ini ada beberapa yang sudah hamil, mudah-mudahan bisa sampai lahir selamat dan sharing pengalamannya di blog ini.
Semoga informasi ini bisa bermanfaat.



sumber : http://mybabyprogram.com/2010/03/01/polikistik-ovarium-pcos-haid-sering-tidak-datang-berkumis-berjerawat-ingin-hamil-sulit/

Mitos Seputar Menstruasi

Minum soda saat datang bulan dipercaya mampu memperlancar haid perempuan. Itu adalah salah satu mitos yang paling banyak dipercaya kaum hawa. Apa lagi mitos seputar haid?
Menstruasi merupakan satu siklus yang terjadi setiap bulannya pada kaum hawa sebelum mengalami menopause. Seperti dikutip dari buku Kesproholic seri 2: Mitos seputar masalah seksual dan kesehatan reproduksi, Jumat (22/1/2010) ada beberapa mitos seputar menstruasi yang tidaklah benar, yaitu:

1. Minuman bersoda dapat mempercepat selesainya menstruasi.
Menstruasi adalah proses luruhnya dinding rahim sebagai akibat tidak adanya pembuahan. Sakit tidaknya atau lancar tidaknya proses ini selain dipengaruhi oleh hormon juga dipengaruhi oleh faktor psikis. Karena itu tidak ada hubungan antara minuman bersoda dengan menstruasi yang lebih cepat.

Keluhan nyeri haid juga disebabkan oleh faktor posisi rahim. Bila posisi rahim menyebabkan leher rahim (saluran keluarnya darah haid) terjepit, maka akan menimbulkan keluhan nyeri. Obat-obatan tertentu bisa memperpanjang atau memperpendek lamanya hari menstruasi.

2. Jangan minum air es saat menstruasi.
Air dingin tidak memiliki efek apapun saat menstruasi. Selama tidak merasakan sakit atau perut kembung, maka minum air es sah-sah saja.

3. Memakai pembalut saat menstruasi bisa menyebabkan kemandulan.
Secara medis pembalut merupakan sarana yang membantu seseorang agar tetap bersih dan tidak lembab selama menstruasi. Pada dasarnya semua pembalut itu sehat, tapi sebagian perempuan ada juga yang mengalami alergi atau iritas. Ini dikarenakan sensitivitas dari organ kelamin setiap orang berbeda-beda. Karena itu disarankan agar setiap menstruasi mengganti pembalut sesering mungkin (idealnya setiap 4 jam).

4. Tidak boleh berenang saat menstruasi.
Selama perempuan memakai pembalut dan tidak merasa risih, maka berenang saat menstruasi boleh-boleh saja dilakukan. Hal ini tidak akan mempengaruhi kesehatan. Tapi jika perut terasa kram, sebaiknya hentikan aktivitas berenang.

5. Perempuan remaja yang belum menstruasi tidak dapat hamil.
Mitos ini sangat kuat melekat di masyarakat, padahal pernyataan ini tidaklah benar. Kehamilan itu berkaitan dengan ovulasi (matangnya sel telur). Beberapa remaja bisa saja mendapatkan menstruasi sebelum masa ovulasi, bersamaan saat tubuh beradaptasi dengan tingkatan hormon. Tapi beberapa remaja lainnya ada yang mengalami ovulasi terlebih dahulu sebelum menstruasi. Jadi bisa saja terjadi kehamilan sebelum mendapat menstruasi pertama.

Bila siklus haid sudah berlangsung, yaitu saat memasuki usia akil baligh maka sel telur sudah dipersiapkan setiap siklusnya. Tapi karena masih dalam proses awal, seringkali pematangan sel telur belum terjadi secara sempurna sehingga menyebabkan haid tidak teratur. Terjadinya haid bisa berarti sudah dihasilkannya sel telur (ovulatoar) atau bisa juga tanpa sel telur (anovulatoar).


sumber : http://www.susukolostrum.com/berita-kesehatan/berita-kesehatan/mitos-seputar-menstruasi.html
 

Aku Ingin Hamil Copyright © 2012 Best Celebrity Wallpaper -- Powered by Blogger